Home Bandung Asli Bung Karno: Peci Hitam Adalah Simbol Nasionalisme dan Lambang Indonesia Merdeka

Bung Karno: Peci Hitam Adalah Simbol Nasionalisme dan Lambang Indonesia Merdeka

1944
2
SHARE

BANUNGHIJI.COM – Jamaah haji pria asal Indonesia umumnya gampang dikenali ketika berada di Tanah Suci lewat kopiah atau peci hitamnya. Memang, peci hitam menjadi salah satu simbol nasionalisme bangsa Indonesia dan lambang Indonesia merdeka, sebagaimana pernah diungkapkan Bung Karno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

“Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka,” ujar Bung Karno.

Lalu, kapan pertama kali Bung Karno memutuskan mengenakan peci hitam atau kopiah? Pada bulan Juni 1921, dalam rapat Jong Java di Surabaya. Awalnya, Bung Karno gelisah melihat kawan-kawannya yang tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat. Ketika itu, Bung Karno yang masih berusia 20 tahun mengaku sempat melakukan percakapan batin dengan dirinya sendiri.

“Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?”

“Aku seorang pemimpin.”

“Kalau begitu, buktikanlah. Majulah. Pakai pecimu. Tarik napas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”

Demikian awalnya Bung Karno mengenakan peci. Beliau kemudian mengombinasikan peci dengan jas dan dasi. Tujuannya, menurut Bung Karno, untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia (yang dijajah) dan Belanda (kaum penjajah).

Sejak itu hampir bisa dipastikan Bung Karno selalu mengenakan peci hitam saat tampil di depan khalayak. Begitu pula ketika Bung Karno membacakan pledoinya yang terkenal, “Indonesia Menggugat”, di Pengadilan Landraad Bandung, 18 Agustus 1930.

Kendati begitu, Bung Karno bukanlah cendekiawan masa pergerakan yang pertama kali menggunakan peci. Pada tahun 1913, rapat Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) di Den Haag mengundang tiga politisi Hindia Belanda sedang menjalani pengasingan di Negeri Belanda: Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara.

Ketiga tokoh itu datang dengan menunjukkan identitas masing-masing. Ki Hajar menggunakan topi fez Turki berwarna merah yang kala itu populer di kalangan nasionalis setelah kemunculan gerakan Turki Muda tahun 1908, yang menuntut reformasi kepada Sultan Turki. Tjipto mengenakan kopiah dari beludru hitam dan Douwes Dekker tak memakai penutup kepala.

Kemungkinan Bung Karno mengikuti jejak gurunya itu: memilih peci beluderu hitam yang kemudian dikenal sebagai peci atau kopiah.

Sikap Bung Karno untuk mengenakan kopiah itu berpengaruh luas. Pada pertengahan tahun 1932, Partindo melancarkan kampanye yang diilhami gerakan swadesi di India, dengan menyerukan agar rakyat hanya memakai barang-barang bikinan Indonesia. Orang-orang pun mengenakan pakaian dari bahan hasil tenunan tangan sendiri yang disebut lurik, terutama untuk peci yang dikenakan umat muslim di Indonesia. Peci lurik mulai terlihat dipakai terutama dalam rapat-rapat Partindo.

“Tapi Bung Karno tak pernah memakainya. Dia tetap memakai peci beluderu hitam, yang bahannya berasal dari pabrik di Italia,” tulis Molly Bondan dalamSpanning A Revolution.

Asal-usul peci itu sendiri dari mana? Seperti diungkap di atas, Bung Karno menyebut peci asli milik rakyat kita mirip dengan yang dipakai para buruh bangsa Melayu. Di Indonesia, orang menyebutnya peci atau kopiah. Orang Melayu di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan selatan Thailand, dan juga sebagian Indonesia, menyebutnya songkok.

Dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah” yang dimuat The Brunei Timespada 23 September 2007 lalu, Rozan Yunos mengatakan songkok diperkenalkan para pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama dikenal pula serban atau turban. Namun, serban dipakai para cendekiawan Islam atau ulama, bukan orang biasa. Menurut para ahli, songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar,” tulis Rozan.

Kendati begitu, asal songkok menimbulkan spekulasi karena tak lagi terlihat di antara orang-orang Arab. Di beberapa negara Islam, sesuatu yang mirip songkok tetap populer. Di Turki ada fez dan di Mesir disebut tarboosh. Fezberasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi atau phecy. Di Asia Selatan (India, Pakistan, dan Bangladesh) fez dikenal sebagai Roman Cap (Topi Romawi) atauRumi Cap (Topi Rumi). Ini menjadi simbol identitas Islam dan menunjukkan dukungan muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin Kekaisaran Ottoman.

“Menurut beberapa ahli, ini adalah tutup kepala yang merupakan pendahulu songkok di Asia Tenggara,” tulis Rozan.

Tampaknya, peci juga sudah dikenal di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Ketika Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, dia kembali ke Ternate dengan membawa kopiah atau peci sebagai buah tangan.

“Peci dari Giri dianggap magis dan sangat dihormati serta ditukar dengan rempah-rempah, terutama cengkih,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia III.

Adapun sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budayamengatakan, tutup kepala yang paling lazim digunakan adalah peci atau kopiah yang terbuat dari beluderu hitam, yang semula merupakan salah satu bentuk kerpus muslim. “Setelah diterima oleh Sukarno dan PNI sebagai lambang nasionalisme, peci mempunyai makna lebih umum,” tulis Lombard. (Pur/dbs)

Comments

comments

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here