Home Bandung Asli Bung Karno, Bandung, dan Kaleng Pipis

Bung Karno, Bandung, dan Kaleng Pipis

696
0
SHARE

BANDUNGHIJI – Sudah semestinya memang bangunan-bangunan sejarah yang menjadi jejak Bung Karno di Bandung direvitalisasi, seperti dicanangkan Kepala Balai Kepengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah, dan Nilai Tradisi Agus E Hanafiah pada Desember lalu. Karena, Bandung memang tempat Soekarno muda membuat sejarahnya.

Seperti terekam dalam catatan sejarah, niat Bung Karno awalnya ke Bandung hanya untuk kuliah di Bandoeng Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung). Beliau mengambil jurusan arsitektur.

Namun,  pergaulannya dengan para tokoh di Bandung membuat Bung Karno setelah lulus pada tahun 1926 berganti haluan total ke jalur politik. Padahal, beliau sebelumnya mendirikan biro konsultan pembangunan, yang akhirnya tak jalan karena memang tak diurus.

Karena, ketika itu, tahun 1927, Bung Karno sudah mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang didirikannya bersama Mr Iskak, dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Mr. Boediardjo, dan Mr. Soenarjo. Kegiatan utama klub ini adalah mendiskusikan bacaan, terutama buku-buku ”babon” berbahasa Belanda, yang dipinjam dari perpustakaan. Mereka bergantian mereka membacanya, lalu berdiskusi dan membuat tulisan.

Usia Bung Karno ketika itu baru 25 tahun dan ia lebih banyak disibukkan dengan membaca buku, termasuk bukuDas Kapital. ”Aku ingin menyelam, menyelam dalam dan lebih dalam lagi,” ungkap Bung Karno dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Ternyata, banyak yang ingin bergabung dengan Algemeene Studie Club. Akhinrya dibuatlah klub-klub serupa di berbagai kota. Untuk menampung gagasan-gagasan para aktivis tersebut dibuatlah majalah Suluh Indonesia sebagai sarana menyosialisasi pikiran mereka.

Yang pertama menulis dalam majalah itu adalah Bung Karno sendiri. Ia menulis artikel berjudul “Nasionalisme, Islamisme. dan Marxisme”. Isinya tentang konflik antara Serikat Islam Putih yang dipimpin Agus Salim dan Serikat Islam Merah (Sarekat Rakyat) yang dipimpin Semaun.

Menurut Bung Karno lewat tulisannya, pertikaian politik antarkelompok justru menghambat perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. ”Tetapi kita yakin bahwa dengan terang-benderang menunjukkan kemauan kita menjadi satu. Kita yakin bahwa pemimpin Indonesia semuanya insaf, persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan,” tulis Bung Karno.

Memang, sebelum ke Bandung, Bung Karno lebih dulu ngenger di rumah pendiri Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto (kawan karib ayah Bung Karno) di Surabaya. Soekarno muda dititipkan di rumah tokoh pergerakan Islam itu ketika masuk Hoogere Burger School (HBS). Di rumah Tjokroaminoto inilah ia dapat berkenalan dengan tokoh pergerakan nasional, seperti Wahidin Soedirohusodo dan Soetomo. Juga para tokoh Islam, seperti Agoes Salim, Abdoel Moeis, Ahmad Dahlan, Hasjim Asj’ari, dan A Hassan. Yang belakangan ini adalah pendiri Persatuan Islam di Bandung, yang kemudian menjadi kawan korespondensi Bung Karno.

Ketika ngenger di rumah Tjokroaminoto itu juga Soekarno berkenalan dengan tokoh dari marxisme dan sosialisme, seperti Alimin, Semaun Darsono, dan Tan Malaka. Ketiganya awalnya adalah pengurus Sarekat Islam, tapi kemudian memisahkan diri untuk bergabung dengan kelompok marxis. Mereka selanjutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1920, sementara itu, Soekarno dan kawan-kawan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia di Bandung, 1927.

Tahun 1927 itu memang dicanangkan Soekarno sebagai tahun propaganda politik. Soekarno bukan hanya turun ke daerah, menggalang dukungan, tapi juga menerbitkan majalah Persatuan Indonesia pada 1928 sebagai ajang propaganda. Lalu, majalahFikiran Rakjat diterbitkan pada 1932 ketika Partai Nasionalis Indonesia pecah menjadi Partindo.

Pada 29 Desember 1929, ketika sedang di Yogyakarta untuk ke Solo, untuk mengikuti pertemuan partainya, Soekarno ditangkap oleh setengah lusin polisi Indonesia yang dipimpin inspektur Belanda atas nama Sri Ratu. Ia ditahan semalam di penjara Mergangsan, Yogyakarta, lalu beserta dua kawannya dibawa ke penjara Banceuy di Bandung, yang ketika itu dikenal sebagai penjara kelas coro, yang kotor dan bau.

Di penjara inilah Bung Karno menulis antara lain pembelaannya yang sangat tersohor, “Indonesia Menggugat”. Beliau menuliskannya di atas kaleng wadah pipis. Jadi, kaleng wadah pipis itu dijadikan meja untuk menulis setiap malam oleh Bung Karno. Juga tentunya tetap menjadi tempat buang hajat kalau memang sudah kebelet. Baru pagi harinya, kalau diizinkan meninggalkan sel, kaleng itu dibawa ke kamar mandi untuk dibersihkan. Setelah bersih dipakai lagi sebagai meja untuk menulis.

Bung Karno akhirnya divonis empat tahun penjara. Namun, beliau dibebaskan pada 31 Desember 1931. Gubernur Jenderal De Graeff saat itu agaknya tak tahan atas kritik pedas terhadap putusan membui Soekarno.

Dalam pembelaannya, “Indonesia Menggugat”, Soekarno memang berbicara tentang penderitaan rakyat setelah tiga setengah abad diisap kolonial Belanda. Bung Karno juga berbicara mengenai pendirian Partai Nasional Indonesia dan pergerakan yang ia percayai dapat membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme. Bahasanya lugas dengan nadanya penuh gelora. Ketika membacanya dalam 19 kali persidangan di Jalan Landraad, Bandung, gedung itu sesak oleh manusia. Naskah itu bahkan sempat diterbitkan dalam selusin bahasa di dataran Eropa.

Namun, tahun 1933, Soekarno ditangkap lagi. Ia kemudian diasingkan ke Ende-Nusa Tenggara Timur dan Bengkulu. (Pur/BDGH)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here