Sejumlah Titik di Kota Bandung Dilanda Banjir

    447
    0

    BANDUNGHIJI – Sejumlah wilayah di Kota Bandung, Minggu 13 November 2016 kembali dilanda banjir akibat hujan deras disertai angin kencang. Luapan sejumlah sungai dan anak sungai, selain menggenangi ruas jalan di pusat kota, juga menggenangi fasilitas umum.

    Kota Bandung belum didesain agar siap menghadapi potensi bencana di tengah cuaca ekstrem. Munculnya titik-titik baru banjir, termasuk stasiun dan rumah sakit menjadi buktinya.

    Hujan deras disertai angin selama sekitar tiga jam bukan saja merobohkan belasan pohon. Genangan setinggi setengah meter membuat Stasiun Bandung lumpuh. Semua jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api ditunda.

    “Hari ini, Stasiun Bandung terendam air hujan. Air mulai merendam sekitar pukul 12.00 WIB dengan ketinggian air lebih kurang 50 cm,” kata Kepala Humas Daop 2 Bandung Ilud Siregar, Minggu (13/11/2016).

    Akibat terendamnya stasiun tersebut, untuk sementara KA tertahan di sinyal masuk pihak Stasiun Ciroyom dan Stasiun Cikudapateh.

    Demi keselamatan perjalanan, ada beberapa KA yang tertahan di stasiun. Antara lain KRD 390 jurusan Padalarang-Cicalengka yang tertahan di Stasiun Ciroyom dan KRD 400 jurusan Padalarang-Cicalengka tertahan di Stasiun Cimindi.

    Genangan air juga dilaporkan ditemukan di Rumah Sakit Cicendo dan Rumah Sakit Umum Daerah Ujungberung. Banjir di fasilitas-fasilitas layanan publik itu merupakan yang pertama kalinya terjadi.

    ”Kota ini tidak siap menghadapi ancaman bencana, terutama banjir. Titik-titik banjir baru bermunculan ketika titik-titik rutin seperti Pasteur, Pagarsih, dan Gedebage belum tuntas tertangani,” ujar pakar tata kota ITB Denny Zulkaidi.

    Diungkapkan Denny, kondisi cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang tahun ini turut berkontribusi terhadap rentetan bencana banjir di Kota Bandung dalam beberapa pekan terakhir. Namun, menimpakan seluruh kesalahan pada cuaca juga kurang tepat.

    ”BMKG sudah jauh-jauh hari memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem akhir tahun ini. Ada waktu untuk bersiap. Hal ini yang tidak dikerjakan secara optimal. Ketiadaan BPBD di kota ini membuat koordinasi antisipasi bencana tak jelas siapa bertanggung jawab,” tutur Denny.

    Denny menegaskan, pentingnya penanganan masalah banjir secara integral. Penambahan ukuran gorong-gorong di Dago, misalnya, belum bakal efektif menuntaskan genangan karena sistem drainase di bawahnya belum disesuaikan kapasitasnya.

    Koordinasi dengan wilayah-wilayah di Bandung Raya juga mutlak dilakukan. Pemkot Bandung tidak akan bisa menangani banjir sendirian. Menurut Denny, komitmen bersama yang beberapa hari lalu diinisiasi Pemprov Bandung merupakan langkah positif.

    ”Tapi ini kan baru komitmen di atas kertas, belum aksi. Nah, pelaksanaan di lapangan inilah yang musti segera dikerjakan dengan serius,” tegasnya. (WHT)

    Comments

    comments

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.