Home Bandung Asli Andai Saya jadi Walikota Bandung*) (Bagian 2)

Andai Saya jadi Walikota Bandung*) (Bagian 2)

141
0
SHARE

Andai Saya jadi Walikota Bandung*): (2)

OLEH IMAM WAHYUDI

Saya akan segera berkunjung ke markas PT KAI (Kereta Api Indonesia) untuk menemui dirutnya dan mengajak diskusi cerdas secara maraton — membahas sejumlah lahan milik otoritas transportasi kereta api itu — yang sudah lama dibiarkan tak terurus dan tak memberikan manfaat optimal bagi khalayak. Bersamaan itu, saya akan menunjuk seluas lahan atau bidang kawasan yang selama ini dibiarkan semrawut dan kumuh. Apalagi, kalau bukan bidang yang disebut Stasiun Hall.

Disebut Stasiun Hall, karena fungsinya sebagai “hall” yang merupakan akses masuk dan keluar penumpang dari dan ke Stasiun (utama) Bandung, Jl. Stasiun Timur — yang sejajar dengan Jl. Kebonjati/Suniaraja. Lain dulu, lain sekarang. Di sini dan berlangsung lama, nyaris tak berubah dan tak pernah tersentuh pembangunan yang digulirkan pemerintah Kota Bandung — bersamaan silih berganti walikota.

Kawasan ini menjadi kian terkenal, krn sederet warung sate kambing. Di bagian muka, ada warung nasi yang lebih sohor dengan sebutan “Perkedel Bondon”. Ya, menu utamanya perkedel, selain sayur lodeh. Pokoknya “murah meriah” yg menjelang malam, selalu berjejal para peminatnya. Lantas apa urusannya dg kata “bondon” tadi.

Di tahun 1980, kota Bandung marak denga sebutan “bondon” alias “boneka donto” bagi para wanita malam. Sempat pula disebut “perkedel hostes”, menyusul kalangan pramuria (baca: hostes) menjadi langganan — usai bubaran klub malam (nite club) yang cukup populer kala itu. Nah, di siang hari — kawasan ini lebih banyak berfungsi sebagai terminal antarkota (jarak dekat), khususnya tujuan Lembang dan Subang. Makin lengkap semrawutnya dan kotor. Padahal letaknya termasuk radius pusat kota.

Kalau eks pusat pergudangan PT KAI (baca: PJKA) di belahan barat Jl. Pasirkaliki yang bersebelahan dengan Dipo Lokomotif — bisa disulap jadi Paskal Square — kawasan pusat perbelanjaan, hiburan malam, kuliner, perkantoran hingga hotel — mengapa tidak juga berlaku bagi Stasiun Hall..??!! Bisa ditebak alasannya. Bergandeng tangan dg pihak swasta alias pengembang: Duit…!

***

Harapan warga terhadap kondisi berlarut bidang Stasiun Hall, tentu tidak mengarah pada fungsi kawasan komersial — melainkan ruang terbuka serupa plaza, termasuk area parkir modern. Betapa leganya kawasan ini yang tak sebatas bidang segiempat Stasiun Hall — melainkan meliputi deretan bangunan di sisi barat yang lagi2 kumuh dan saat malam hari menjamur puluhan PSK di sana.

Sejatinya “duduk bareng” Walikota Bandung dengana pihak PT KAI, bahkan lebih jauh dg Menteri Perhubungan — bisa dilakukan pada ‘kesempatan pertama’. Tentu, saya pun tak sulit menyampaikan harapan tersebut kepada para calon Walikota Bandung yang belakangan mulai “publish” — tanpa kata “andai”. (bersambung).

*) #mimpi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here