Home Bandung Asli Bung Karno dan Sel Banceuy Bandung

Bung Karno dan Sel Banceuy Bandung

376
0

BANDUNGHIJI.COM – Penjara Banceuy yang berada di Jalan Banceuy No 8 Kota Bandung, dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1877. Pada tahun 1983, bangunan ini dibongkar menjadi kawasan pertokoan, dan kini penjara Banceuy dipindahkan ke Jalan Soekarno – Hatta.

Hanya ada 1 sel atau kamar tahanan yang disisakan yaitu sel tempat dimana Ir. Soekarno bapak Proklamator Indonesia pernah jadi tahanannya.
Di sel nomor 5 penjara Banceuy selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan Bung Karno mendekam sebagai tahanan politik oleh pemerintah kolonial Balanda. Sel Bung Karno berukuran 2,5×1,5 meter ini mencatat banyak sejarah, dimana Bung Karno menyusun pledoi yang sangat terkenal dan kemudian diberi nama Indonesia Menggugat.

“Saat dibongkar karena dipindahkan di Jalan Soekarno-Hatta pada tahun 1993, hanya 1 sel dan menara Pos penjaga yang disisakan. Karena di kamar ini memiliki sejarah dimana Bung Karno pernah dipenjara oleh Balanda,” begitu Kuncen Penjara Bunceuy, Ahmad (50). 

Ruang sempit di penjara Banceuy, Bandung, Soekarno membela diri, membela bangsa dan rakyatnya. Di sana ia menulis naskah ”Indonesia Menggugat” sebagai perlawanan terhadap penguasa kolonial. Sel Bung Karno hanya selebar 1,5 meter, panjang 2,1 meter, dan tinggi 2,5 meter. ”Betul-betul sepanjang peti mayat,” kata Bung Karno dalam bukunya Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Sel itu berlantai semen nan dingin. Pintu besinya berderit saat dibuka. Di atas pintu juga terdapat jendela berjeruji sebagai ventilasi udara. Di sebelah kiri terdapat kayu jati selebar 45 cm tertutup selimut putih bergaris biru dan bantal berkulit karung bekas yang dihiasi bendera Merah Putih mungil. Di atas papan itulah Bapak Bangsa itu tidur. 

“Kini, sel di Banceuy dan sejarah di dalamnya nyaris terlupakan”, ucap Ahmad yang selama hidupnya menjaga tempat bersejarah tersebut secara sukarela. Ruangan itu kini masih sumpek, seperti yang digambarkan Bung Karno kala itu. ”Tempat itu gelap, lembab, dan sumpek… ketika pintu berat itu mengurungku untuk pertama kali, rasanya aku mau mati,” kata Soekarno kepada Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Soekarno makin tersiksa lantaran dilarang berkomunikasi dengan rekan-rekan seperjuangannya, termasuk dengan belahan jiwanya, Inggit Garnasih. Bung Karno hanya berteman dengan cicak sebagai pengusir sepi. Baru pada hari ke – 40, Belanda mengizinkan Soekarno bertemu dengan Inggit di ruang tamu penjara yang dibatasi jaring kawat. Hanya lima menit mereka diizinkan bertemu. Meskipun kedua insan itu didera rindu, suasana menjadi kaku karena pertemuan mereka dijaga ketat dan segala ucapan dicatat penjaga. Sentuhan tangan pun dilarang. ”Istriku hanya memandang ke dalam mataku, dan dengan seluruh kasih yang dapat dicurahkannya ia berkata, ’Apa kabar?” kata Bung Karno.

“Ruang pertemuan itu kini musnah berganti tembok tebal ruko. Lokasi ini terasa lebih sumpek daripada gambaran Soekarno kala itu karena ke mana pun mata menatap tertabrak tembok hitam pertokoan”, keluh Ahmad. Pada dinding di atas tempat tidur sel bung Karno, terpasang logo Garuda dan tiga foto Bung Karno dalam pigura. Di pojok ruangan terdapat kaleng yang berfungsi sebagai tempat buang air. Selama di penjara, setiap hari Soekarno harus mengambil kaleng itu dari kolong tempat tidur, membawanya ke kamar mandi, lalu membersihkannya. Kaleng itu juga yang dia manfaatkan sebagai pengganti meja selama satu setengah bulan menulis naskah heroik ”Indonesia Menggugat”, pembelaan Bung Karno atas tuduhan Belanda yang dia anggap tidak mendasar. Pembelaan yang dibaca Soekarno di gedung pengadilan kolonial (sekarang Gedung Indonesia Menggugat) pada 18 Agustus 1930 itu begitu menginspirasi dan mengundang simpati sehingga diterbitkan dalam belasan bahasa. Soekarno sebagai tergugat membalik psikologi sidang pengadilan menjadi penggugat mewakili hati dan rakyatnya. Dia fokus menuntut kemerdekaan. Gaung pleidoi ini terdengar hingga Belanda sehingga Partai Buruh bergolak mendukung Soekarno. Pleidoi Soekarno menginspirasi tokoh-tokoh Asia untuk turut menuntut kemerdekaan negara mereka. Dari ruang sempit itu, Soekarno membakar semangat dunia. Di penjara yang saat ini dijadikan Museum Penjara Banceuy tersebut dihiasi kalimat ungkapan Bung Karno, “Koe Korbankan Dirikoe di Penjara Ini Demi Bangsa dan Negaraku Indonesia”.

Romansa Soekarno dan Inggit bermula pada 1921.  Soekarno bersama istrinya, Siti Oetari, putri HOS Tjokroaminoto datang ke Bandung dari Surabaya. Soekarno hendak meneruskan kuliah di Technische Hooge School (THS), sekarang ITB, jurusan Teknik Arsitektur. Atas saran Tjokro, Soekarno indekost di rumah milik Sanusi dan istrinya, Inggit.

Takdir akhirnya berbicara. Soekarno yang tidak bahagia menjalani pernikahannya dengan Oetari bertemu dengan Inggit yang juga tak bahagia dengan pernikahannya. Oetari masih sangat kekanak-kanakan, hampir tiap hari bermain lompat tali di halaman. Kontras dengan Soekarno yang tekun belajar dan giat di pergerakan nasional.

Sementara Sanusi sibuk main biliar dan melupakan kebahagiaan Inggit di rumah. Akhirnya, Soekarno mengembalikan Oetari ke rumah orangtuanya dan kemudian menikahi Inggit yang diceraikan suaminya. Saat itu umur Soekarno 22 tahun sementara Inggit 35 tahun.

Saat menyerahkan Inggit ke Soekarno, Sanusi berpesan, “Cintailah Inggit dengan sungguh-sungguh dan jangan terlantarkan dia. Saya tidak senang, tidak rela kalau musti melihat Inggit hidup sengsara baik lahir maupun batin.”

Bercerai dengan Sanusi dan menikahi Soekarno yang masih mahasiswa jelas menghadirkan tantangan tersendiri.  Hidup dengan Soekarno berarti mesti berkesusahan dan jauh dari materi. Toh, Inggit tak gentar menghadapi itu semua.

Dia rela membanting tulang untuk mencari nafkah. Berbagai macam cara dilakukannya.  Mulai dari menjahit pakaian, menjual kutang, bedak, rokok, meramu jamu, hingga menjadi agen sabun kecil-kecilan.

Tahun 1926 adalah momen membahagiakan Inggit. Sebab saat itu Soekarno sukses menamatkan kuliahnya. Perjuangannya tidak sia-sia. Namun perjuangan Inggit belum berakhir. Ini justru awal dari pejuangan yang lebih besar. Usai mengantongi gelar insinyur, Soekarno tidak mencari kerja yang bonafid, justru kian aktif di pergerekan dengan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Hati Inggit tak pernah berpaling. Dia selalu setia dan tak pernah lelah menyemangati Soekarno. Inggit selalu menyediakan semua hal yang dibutuhkan si Bung Besar.  Pikiran Soekarno dibiarkan tercurah sepenuhnya untuk pergerakan perjuangan Indonesia, sementara Inggit senantiasa setia menjadi tulang punggung perekonomian mereka. 

Tak jarang, Inggit mengepalkan uang untuk bekal Soekarno dalam perjuangannya.  “Saat kelelahan, dia (Soekjarno) memerlukan hati yang lembut, tetapi sekaligus memerlukan dorongan lagi yang besar yang mencambuknya, membesarkan hatinya. Istirahat, dielus, dipuaskan, diberi semangat lagi, dipuji dan didorong lagi,” ucap Inggit. 

MELAYANI DARI LUAR PENJARA

Pada 29 Desember 1929, Soekarno dan Gatot Mangkoepradja ditangkap di rumah Mr Soejoedi, di Yogyakarta.  Soekarno dibawa ke Penjara Banceuy sebelum dipindahkan ke Penjara Sukamiskin.  Selama Soekarno di penjara, Inggit setia menempuh perjalanan sejauh 30km dari Ciatel ke Sukamiskin menjenguk Soekarno dengan berjalan kaki untuk mengirit ongkos.  Inggit adalah sumber informasi dan pengamat jitu segala yang terjadi di luar bilik penjara.

Meski pemeriksaan ketat diberlakukan di sana, Inggit berhasil mengecoh sipir penjara dengan menggunakan telur rebus sebagai media komunikas. Telur tersebut telah ditandai dengan tusukan halus di luarnya.  Satu tusukan berarti situasi aman. Dua tusukan artinya seorang kawan tertangkap. Tiga tusukan menandakan adanya penyergapan besar-besaran.

Segala macam hal dilakukan Inggit untuk meringankan beban Soekarno. Mulai dari menyelundupkan buku atau memberikan sejumlah uang dalam makanan.  Bahkan, agar bisa menyelundupkan buku, Inggit harus berpuasa tiga hari agar buku-buku itu bisa ia sembunyikan di perut. Inggit tak pernah menunjukkan kesedihan di depan suaminya. Termasuk saat Soekarno galau karena merasa menjadi suami yang gagal.

“Tidak, kasep (ganteng), jangan berpikir begitu. Mengapa mesti berkecil hati. Di rumah segala berjalan beres.Tegakkan dirimu, Kus (Kusno, panggilan kecil Soekarno), tegakkan! Teruskan perjuanganmu! Jangan luntur karena cobaan semacam ini!” tegas Inggit dengan kelembutan.

RELA IKUT DIBUANG

Setelah bebas dari hotel prodeo, Soekarno kembali melanjutkan perjuangannya. Ini membuatnya ditangkap Belanda lagi dan dibuang ke Ende, Flores, sebelum kemudian dibuang ke Bengkulu. Inggit sebenarnya bisa tidak ikut ke tempat pembuangan. Namun wanita yang hanya bisa membaca (tidak bisa menulis) ini keukeuh menemani suaminya ke mana pun, meski ke ujung dunia.

Saat di pengasingan di Ende, Soekarno terjangkit malaria. Kondisi psikis Soekarno sangat lemah. Berkali-kali ia mengeluh kepada Inggit.  Ia pernah berucap keinginan untuk membuat taktik berpura-pura bekerja sama dengan pemerintah agar segera kembali ke Jawa.  Inggit sebaliknya menolak dan menegur suaminya.

“Kus, kamu ini bagaimana? Baru mendapatkan ujian sekecil ini sudah tak kuat. Bagaimana nanti jika jadi pemimpin? Cobaan pasti lebih berganda. Mestinya Kus bisa lebih sabar dari kami. Masak calon pemimpin berjiwa selemah ini? Percayalah, ini bukan untuk selamanya, ini hanya sementara. Buktikan tak lama lagi kita pasti keluar dari pulau terpencil ini. Nggit yakin itu, sebab Tuhan tak akan mungkin terus-menerus menguji hambaNya. Dia masih sayang kepada kita. Percayalah.”

Semangat Soekarno yang hampir padam pun menyala kembali.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bengkulu akhirnya menjadi ujian terberat bagi kisah cinta keduanya. Ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu, hadirlah sosok Fatimah dalam kehidupan keduanya.  Fatimah lahir pada 5 Februari 1923 dari pasangan Hassan Din dan Siti Khatidjah. 

Ketika Soekarno diasingkan di Bengkulu, Fatimah sering bermain ke rumah Soekarno karena ia adalah kawan sepermainan anak angkat Soekarno.  Fatimah juga akrab dengan Inggit, bahkan Inggit menganggap Fatimah seperti anaknya sendiri. Setelah 20 tahun menemani Soekarno dalam onak duri perjuangan, pada suatu hari Inggit mengalami “tamparan” yang begitu dahsyat.

Soekarno minta izin untuk menikahi Fatimah dengan alasan Inggit tak bisa memberikan keturunan.

“Aku tidak bermaksud menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas dan engkau tetap sebagai istri yang pertama, jadi memegang segala kehormatan yang bersangkutan dengan hal ini, sementara aku dengan mematuhi hukum agama dan dan hukum sipil, mengambil istri kedua agar mendapatkan keturunan,” ujar Soekarno ke Inggit seperti dikutip dalam buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams.

Inggit menolak dengan tegas. Dia tidak mau dimadu.  Akhirnya Soekarno mengembalikan Inggit ke orangtuanya di Bandung. Soekarno pun membuat surat perjanjian yang ditandatangani juga oleh Inggit.  Dalam surat itu Soekarno menjatuhkan talak kedua, dan berjanji memberikan sebuah rumah, tunjangan hidup dan membayar utang, tapi tak semua dipenuhi.  Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantoro, dan Hadji Mas Mansoer menjadi saksi perjanjian itu.

Pada 1 Juni 1943, Soekarno menikahi Fatimah yang belakangan namanya diubah menjadi Fatmawati.  Kepergian Soekarno dilepas oleh Inggit dengan doa dan harapan ketika proses perceraian itu usai. “Selamat jalan dan semoga selamat dalam perjalanan”.

Inggit tidak mengeluh dan tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit kepada Soekarno. Seperti ombak yang mencintai pantai. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti. 

CINTA YANG TAK PERNAH PUDAR

Pada 1960, Soekarno berada di puncak kekuasaannya. Dia mengunjungi Inggit yang saat itu telah berusia 72 tahun.  Dalam pertemuannya, Soekarno meminta maaf karena telah menyakiti hati Inggit. Namun dengan besar hati Inggit menjawab, “Tidak usah meminta maaf Kus. Pimpinlah negara dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu di rumah ini.”

Istri-istri Soekarno mencicipi manisnya kehidupan di istana. Mereka diberi rumah di Kebayoran, Slipi, Gatot Subroto.  Sementara Inggit hanya mampu menatap puing-puing rumah panggung di Jalan Ciateul yang penuh memori kebahagiaan, kesengsaraan, dan perjuangan bersama Kusno kesayangannya. 

Kamar dan rumahnya begitu sederhana. Harta miliknya hanyalah radio Philips buatan tahun 1949, sebuah foto Bung Karno tersenyum manis, sebuah teropong dan perangkat makan sirih serta sebuah pispot. Ditambah dua buah balai-balai dan sebuah lemari kayu murahan.

Namun Inggit tak pernah menyesal. “Yang lalu sudahlah berlalu, aku telah mengantarkan Kusnoku, Kasepku, Kesayanganku, Fajarku ke gerbang kebahagiaan, gerbang cahaya yang dari dulu diimpikannya.” Inggit meninggal pada 13 April 1984 di usia 96 tahun. 

Dia dimakamkan di pemakaman umum Kopo tanpa upacara layaknya melepas seorang pahlawan yang berjasa membentuk pribadi tangguh founding father bangsa. Meski begitu, sejarah tidak akan melupakannya. 

Behind every  great man there is a strong and a greater woman. Inggit adalah sosok wanita hebat sesungguhnya di belakang pria hebat Soekarno.

Dan saat Tim Redaksi sempat berkunjung, akhirnya bisa mendokumentasikan sejumlah foto yang saat ini maka kami berbagi untuk pembaca disini. Meski data nasakah kami ambil dari berbagai sumber semoga bermanfaat. Sarannya kami menyampaikan pemda kota Bandung hendaknya bekas penjara Bung Karno ini dijadikan Destinasi Sejarah kota Bandung. Karena ini jelas awal perjuangan lahirnya kemerdekaan yang saat ini kita nikmati dan lepas dari penjajahan.

(Dari Berbagai Sumber/blc), Foto-Foto: Andy Sopiandi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.