Home Bandung Asli Nia Cabup Kabupaten Bandung Jadi Simbol Membangun Kepemimpinan Saat Ini

Nia Cabup Kabupaten Bandung Jadi Simbol Membangun Kepemimpinan Saat Ini

304
0

Stigma negatif dalam pandangan tradisional masyarakat perihal kontroversi kepemimpinan seorang wanita perlahan-lahan meluruh.

Pikiran ortodoks yang menganggap kaum wanita tak becus memegang pucuk organisasi atau pemerintahan tak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Beberapa orang masih berpegang pada sudut pandang tradisional bahwa laki-laki dilahirkan untuk menjadi pemimpin dan perempuan dianggap berperilaku seperti bawahan yang hanya mendukung fungsi efektif mereka, dan mereka tidak boleh mengambil alih otoritas laki-laki.

Namun, waktu telah berubah. Kemajuan teknologi dan kualitas pertukaran informasi yang lebih tinggi saat ini mendorong perspektif yang berbeda terhadap pandangan umum pemimpin dan menjembatani kesenjangan gender.

Lalu, bagaimana kondisi kesetaraan gender di Indonesia, khususnya di kancah perpolitikan?

Dalam dua dekade terakhir nyatanya hegemoni kaum wanita di percaturan politik tanah air tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Tokoh-tokoh perempuan sukses melenggang menjadi orang nomor satu atau dua di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi.

Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Indah Putri Indriani (Bupati Luwu Utara), Idza Priyanti (Bupati Brebes), Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jawa Timur), Asmin Laura Hafidz (Bupati Nunukan), Mirna Anissa (Bupati Kendal) serta Airin Rachmi Diany (Walikota Tangerang Selatan) adalah beberapa contoh figur wanita yang terbilang sukses mengembangkan dan memaksimalkan potensi daerah yang dipimpinnya.

Pada Pemilihan Kepala Daerah serentak yang akan digelar 9 Desember 2020 mendatang, dua dari tiga kandidat Bupati Kabupaten Bandung bahkan diduduki kaum hawa. Mereka adalah Yena Iskandar Ma’soem dan Nia Kurnia Agustina.

Sosok Yena dan Nia seolah menjadi katarsis dari kejenuhan masyarakat terhadap arogansi propaganda kampanye yang begitu meremehkan talenta kepemimpinan wanita. Padahal indikator kesuksesan seorang pemimpin bukan ditentukan oleh gender, melainkan seberapa baik akhlak, sikap, wawasan hingga karakter manusia tersebut.

Bahkan, dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Liverpool University menyebut jika wilayah-wilayah yang dipimpin seorang wanita ternyata cenderung lebih sukses menangani pandemi Covid-19 ketimbang dengan daerah yang dipimpin pria.

Tim peneliti yang diketuai Prof. Supria Garikipati tersebut melihat negara-negara dengan pemimpin perempuan memberlakukan kuncian wilayah atau lockdown lebih awal. Mereka mengikuti anjuran atau imbauan yang dikeluarkan oleh para ahli keilmuan dengan cepat dan ketat.

“Dipimpin perempuan memberi keuntungan bagi negara dalam krisis saat ini,” ujar Garikipati melansir kompas.com (22/08/2020).

“Hasil riset kami dengan jelas menunjukkan pemimpin perempuan bereaksi lebih cepat dan tegas dalam menghadapi potensi kematian. Di hampir semua kasus, mereka mengurung wilayahnya lebih awal daripada pemimpin laki-laki. Hal itu tentunya telah membantu menyelamatkan nyawa,” lanjutnya.

Temuan Supria Garikipati dan tim ilmuan Liverpool University hanyalah satu dari sekian banyak penelitian lain yang membuktikan sisi positif kepemimpinan wanita di sebuah negara atau wilayah.

Kembali ke Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bandung, kehadiran Yena dan Nia jelas menjadi opsi menarik di tengah pandemi virus corona yang masih menghantui wilayah Bandung dan Jawa Barat, mengacu kepada penelitian dari Liverpool University.

Kedua kandidat kepala daerah wanita tersebut tentu memiliki kelebihan dan prestasi masing-masing. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat, Nia dalam hal ini jauh lebih bisa diharapkan warga Kabupaten Bandung.

Baik Yena maupun Nia adalah figur wanita ideal yang sangat berpotensi memajukan Kabupaten Bandung. Keduanya memiliki tingkat wawasan, kepribadian, ketegasan hingga sifat keibuan yang sama-sama baik.

Akan tetapi dan tak bisa dipungkiri, Nia memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki Yena atau kandidat lainnya, yakni wawasan empiris. Wawasan empiris ini suka atau tidak suka telah membentuk jiwa kepemimpinan Nia secara alami, tidak dibuat-buat.

Wawasan empiris ini didapat Nia selama dua puluh tahun melihat, mendengar dan mendampingi langsung kiprah sang ayah dan suami memimpin Kabupaten Bandung.

Membangun mental kepemimpinan tak bisa hanya dicapai dalam waktu satu atau dua tahun saja. Dan mental tersebut telah tertanam secara alami dalam diri Nia sejak dua puluh tahun yang lalu. ***

SANG/BDGHIJI

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.