Beranda Bandung Asli Hermana HMT: Pemkot Cimahi Tidak Asal Realisasikan Perda Pemajuan Budaya

Hermana HMT: Pemkot Cimahi Tidak Asal Realisasikan Perda Pemajuan Budaya

82
0

BNANDUNGHIJI.COM — Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi tidak asal merealisasikan Perda Pemajuan kebudayaan.

Merespon konsultasi publik tersebut ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), Hermana HMT menyatakan, agar pemerintah Kota Cimahi merealisasikan Perda No.9 Tahun 2018 Tentang Pemajuan Budaya Lokal Kota Cimahi dan Perda Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Cimahi terutama yang berkaitan dengan pemanfataan budaya lokal sebagai salah satu sektor dalam pengembangan pariwisata Kota Cimahi.

“Selama ini 2 (dua) buah perda yang dibuat dan telah disepakati bersama eksekutif, legislatif, dan masyarakat Kota Cimahi itu hanya bagus di atas kertas tapi realisisinya jauh panggang dari api. Sebagian besar pelaku budaya khususnya dan masyarakat Kota Cimahi pada umumnya tidak merasakan ada realisasi dua perda itu secara kooperatif,” ujar Hermana dalam siaran persnya (4/2/2022).

Dalam acara di Bappeda Kota Cimahi gelar Konsultasi Publik Rancangan Rencana Pembangunan Daerah (RPB) Kota Cimahi Tahun 2023-2026 dan Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Cimahi Tahun 2023 secara langsung dan zoom meeting, Jum’at (4/2/2020 di Komplek Pemkot Cimahi.

Menurut Hermana, selama 20 tahun Kota Cimahi berdiri program pemajuan kebudayaan hanya sebagai kegiatan yang bersifat seremonial semata. Hanya sebatas seni tontonan sesaat setelah itu dilupakan. Padahal salahsatu inti dari amanat perda dan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, agar saat ini dan masa mendatang Kota Cimahi dan bangsa Indonesia secara menyeluruh berkepribadian dalam berbudaya.

“Berkepribadian dalam berbudaya artinya kita harus punya identitas yang pasti atau berkarakter atau memiliki jati diri yang kokoh. Kebudayaan sejatinya tuntunan dari sebuah bangsa. Kebudayaan Kota Cimahi adalah tuntunan bagi masyarakat Kota Cimahi, dan saat ini saya merasakan Kota Cimahi terbilang lemah dalam pembangunan berkepribadian dalam kebudayaan,” kata Mang Her, pangilan Hermana yang juga berpropesi sebagai pelaku seni.

Mang Her juga dengan tegas nengatakan, arah pembangunan pemajuan kebudayaan Kota Cimahi bisa dibilang ngambang dan tidak mengakar, sehingga tak berdampak dan membuah hasil yang signifikan. Pemangku kebijakan atau para konseptor di pemeritahan Kota Cimahi masih memandang pembangunan kebudayaan sebagai beban, bukan sebagai investasi jangka panjang yang dapat menghasilkan peningkatan kesejahteraan umum. Tampaknya sampai saat ini, kebudayaan masih dipandang sebagai sektor yang membebani anggaran daerah sebab tidak menghasilkan pendapatan yang cukup besar atau terukur.

“Hal ini terbukti dari implementasi dari program dan kegiatan yang dirancang Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Bidang Kebudayaan Kota Cimahi tiap tahun direduksi (dipangkas) oleh bagian perencanaan diatasnya atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang punya wewenang kotok palu saat penentuan realisasi program dan penganggarannya,” bebernya.

Ditambahkan Hermana, tugas Pemajuan Kebudayaan dipemeritahan sebuah Kota seperti Cimahi bukan semata-mata tugas Disbudparpora, tapi seluruh SKPD mesti melakukan pula kerena bicara kebudayaan adalah bicara suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi.

“Pewarisan kebudayaan dari generasi ke generasi alanghkan lebih baik juga dilakukan pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi. Di Disdik Kota jelas sasarannya, yaitu anak-anak SD dan SMP. Dinas ini mesti dioptimalkan peranya dalam pembangunan karakter dalam menguatkan jati diri dan ketahanan budaya bangsa dari gempuran budaya asing yang kian masif,” harap Hermana.

Lebih lanjut Hermana, sebagai contok bentuk budaya seperti permainan permainan tradisonal, pencak silat dan dongeng harus dimasukan dalam kurikulum muatan lokal. Dalam tiga permainan tersebut anak dididik disiplin, tenggang rasa, gotong royong, tanggung jawab, berbudi luhur, setia kawan, ketangkasan, bela diri, berani, kepemimpinan, dan sikap lainnya yang berhubungan dengan moral.

Anak melakukan permainan tradisional hidupnya lebih riang, gembira dan tidak soliter (tidak asosial). Dalam permainan tradisinal anak-anak juga secara bersamaan belajar berbagai jenis seni, diatanya; nyanyi, musik, tari, acting dan rupa. Anak diajarkan pencak silat (olahraga tradisonal) selain menguatkan ketahan pisik dipupuk keberaniannya bukan untuk bisa berkelahi tapi untuk kesiapan bela diri, bela negara dan meraih prestasi bidang olahraga. Sedangkan mendongeng sangat bermanfaat bagi bekal hidupannya dalam meningkatkan kamanpuan berbicara dan tumbuhkan rasa percaya diri tampil sendiri di depan umum.

“Ada dua hal yang didapat dari pembangunan karakter anak dengan mempelajari bentuk budaya lokal. Pertama sebagi upaya peningkatan skill (kompetensi/ketrampilan) dan keduan membagun sikap atau kepibadian yang berhungan dengan kecerdasan IQ, EQ, kecerdasan sosoal (tata laku) kecerdasan lingkungan (cinta alam). Artinya seorang anak belajar kesenian bekan untuk dicetak sebagai seniman semata, tapi lebih penting merangsang dan mengembangkan multi kecerdasan” ungkapnya.

Mang Her, mengembangkan produk budaya yang masuk padah ranah industri kreatif berkualitas tentunya mesti berda dibawah garis koordinasi Dinas Perdagangan, Kopersi, UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperi) Kota Cimahi atau Bidang Kepawisataan dan Badan Ekonomi Kreatif Kota Cimahi. Dalam hal ini produk budaya pemanfatannya sebagai lahan usaha para pelaku budaya yang ujungnya dapat meningkatkan kesejehteraan dan pendapatan daerah

Untuk promosi dan pendokumentasian seluruh hasil pemeliharaan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan Kota tentunya harus ada andil Dinas Komunikasi, Infarmatika, kearsipan dan perpustakaan (Diskominfaarpus) Kota Cimahi. Sedangkan pemajuan kebudayan yang berhubungan dengan keletarian lingkingan hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi mesti lebih berperan.

“Berhubungan dengan pelestarian air, lingkingan hidup dan ciptakan destinasi pariwisata berbasis kearifan lokal juga air, kami punya kegiatan Festival Air. Kegiatan yang sudah digelar kali ke 5 ini dalam bentuk Kirab Budaya Ngarak Cai (air) dan Ngarumat Cai Cimahi perlu kerjasama antar dinas, diantaranya; Disbudparpora, DLH, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas PUPR, Diskominfoarpus, hingga melibatkatkan seluruh kelurahan sesuai tufoksinya. Kenapa kerjasama ini penting karena kami ingin menjaga sungai Cimahi yang membentang dari kaki gunung Burangrang hingga ke Citaum terhindar dari limbah yang dapat mencemarkan air termasuk sungai lainnya dan menjaga sember mata air yang tersisa. Sungai Cimahi khususnya di Kawasan Pemkota Cimahi mesti bisa dihidupkan lagi peradabannya,” pinta Mang Her.

DEngan tegas Hermana memberikan konsep pentahelix antar kedinasan harus dibangun juga sehingga beban yang dianggap berat dalam pembangunan pemajuan kebudayaan bisa gotong royong dikerjakan bersama termasuk penganggarannya tidak dibebankan dalam satu dinas.

“Intinya legislative (DPRD), eksekutif (pemkot), stakeholder lainnya, dan masyrakat harus punya kepedulian bersama, bahwa pemajuan kebudayaan sama pentingnya dengan pembangunan bidang pisik, kesehatan, dan ekonomi, sehingga harus menjadi skala prioritas. Ingat, hilang budaya maka hilang jati dirinya dan hacur pula citranya. Maju kebudayaan sebuah Kota maju pula peradaban Kota tersebut,” pungkas Hermana.(BUD)

Facebook Comments Box

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.