ARTIKEL TERBARU

Cugenang, Terdampak Parah, Pusaran Gempa Bumi Cianjur

0
Antara Cianjur dan Puncak. Indah pemandangan alam. Hawa sejuk pegunungan. Jalur pasti Bandung-Jakarta. Pun sebaliknya. Sebelum ada ruas tol Cipularang. Tak kurang 17 tahun silam. Hampir tiap pekan, menyusur Cianjur. Merambah Jakarta via jalur Puncak. Berkelok di antara hamparan kebun teh. Saat menanjak di daerah Cugenang, jalan berkelok. Menyerupai tapak kuda. Awal pendakian. Mulai terasa atmosfir kawasan Puncak. Cugenang, sebuah kecamatan — berjarak hanya 9 km dari pusat kota Cianjur ke arah barat. Siang itu, tiba-tiba langit kelam. Senin kemarin, bumi runtuh. Di sekujur Cugenang. Kawasan yang mudah dikenang. Tebing di bibir jalan ambruk. Menutup deretan warung di seberangnya. Sejumlah mobil parkir terkubur. Pun yang tengah melaju. Badan jalan retak menganga. Gempa bumi terjadi. Menghempaskan seketika. Sebagian besar yang berada di permukaan Cugenang. Pusat Gempa Pusat gempa tektonik berada di darat di wilayah Kab. Cianjur. Utamanya di kawasan Cugenang. Itu sebabnya terdampak paling parah. Bukan semata kekuatan magnitudo 5,6 SR. Tapi juga kedalaman “hanya” 11 km dari gerakan bumi. Patahan geser aktif dari Sungai Mandiri di Pelabuhanratu, Kab. Sukabumi — melewati Cianjur. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengonfirmasi korban 268 meninggal dunia. Di antaranya 122 jenazah sudah terindentifikasi. Data per hari Selasa pk 17.00. Sebelumnya Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menyebut 162 orang korban mati. Belum ada data mutahir. Setidaknya langkah tanggap darurat sudah sigap dilakukan. Bahkan perhatian Presiden Jokowi yang turun ke lokasi dan memimpin koordinasi. Betapa tidak, jumlah korban jiwa yang sangat banyak. Ditambah 1.083 korban luka yang butuh perawatan. Kapasitas rumah sakit sangat terbatas. Bahkan dukungan layanan kesehatan lainnya yang juga minim. Tercatat 58.362 orang harus mengungsi. Sejumlah 22.198 unit infrastruktur rusak. Termasuk perkantoran dan pesantren. Tanggap Darurat Penulis mengapresiasi langkah gerak cepat BNPB. Dengan dukungan BPBD sekitar, aparat pemda, kekuatan TNI dan polri. Langkah tanggap darurat tengah berlangsung. Dalam 72 jam pertama masa krusial. Sebuah kegiatan yang bersifat sesegera. Dalam menanggulangi dampak bencana. Meliputi penyelamatan, evakuasi, pengamanan harta benda, kebutuhan dasar warga, perlindungan, pengurusan pengungsi dan pemulihan sarana prasarana. Melihat dampak yang ditimbulkan, kegiatan tanggap darurat — butuh waktu lebih lama. Tak cukup dengan masa krusial tiga hari. Betapa pun, bencana gempa bumi — mengingatkan kita — bahwa Indonesia masuk dalam hamparan ring of fire (cincin api). Perlu pengenalan, pemahaman dan pengetahuan tentang ilmu kebencanaan.*** – iW

Langkah Strategis Partai untuk Anies ?

0
Anies Baswedan Gubernur Jakarta Terpilih saat Fitting bergaya jurus Bangau, yang konon Bangau bisa bikin takut kodok/ist
Langkah Strategis Partai untuk Anies ? Pilpres masih 2 tahun lagi, pendaftaran capres masih 1 tahun lagi, tapi suasananya sudah hangat. Terlepas dari berbagai analisis tentang Nasdem, harus kita akui bahwa Nasdem lebih berani, tepat dan cepat. Mencalonkan Anies pasti bukan tanpa resiko, buktinya ada beberapa pengurus yang mengundurkan diri. Dilain pihak banyak yang ingin bergabung. Anies memang menonjol, hebatnya dia bukan kader partai manapun. Pendukungnya sudah ada diseluruh Indonesia dan bahkan di Luar negeri. Secara sosial mudah dipahami, karena Anies ini merupakan personal yang berprestasi memimpin ibu kota Negara, humble, berahlak baik, jauh dari sifat buruk, networkingnya luas. Partai manapun yang mendukungnya dipastikan suaranya akan bengkak. Pendukung Anies diperkirakan tidak terbatas anggota 212, NU kultural, dan Gen Z (berusia antara 11-26 tahun pada 2024), tapi juga nasionalis. Semuanya merindukan keadilan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Pedukung Anies dari rakyat jelata yang tidak mau dijajah oligarki atau bagiannya dan para tokoh. Mereka juga umumnya bukan orang partai atau bukan orang-orang yang mengharapkan imbalan jabatan atau uang. Mereka bukan orang buta politik, bukan orang yang mudah ditipu dan juga sulit disuap. Ada indikasi militansi nasionalis dan agamis tercampur disana, jauh dari tipe teroris. Diantara pendukungnya banyak yang non muslim. Memang personal tokoh ini adalah tipikal pemersatu bangsa, bukan sebaliknya, sehingga tidak disukai rejim penguasa saat ini. Capres dari parpol rasanya tidak ada yg didukung rakyat seluas dan sebanyak ini. Capres golongan ini tidak ada yang berani mendekat ke kelompok umat Islam yg di framing radikal & intoleran. Berbeda dengan Anies, calon independen ini yang dengan tanpa beban bertemu mereka. Tidak heran jika ada motto relawannya Apapun partainya Anies presidennya, bukan main….. Partai juga mungkin dapat meniru ide-ide segar dan jenaka seperti itu. Partai lain yang banyak disebut akan ikut mendukung Anies untuk memenuhi kriteria 20% presidential threshold adalah PKS dan partai Demokrat. Sayangnya kedua partai ini sampai saat ini masih belum memastikan dukungannya. Konon kabarnya ada masih rebutan posisi dan pembagian kursi menteri. Ya itulah memang yang namanya partai, selalu berhitung seperti itu. Berbeda dengan relawan yg polos dan lugu, tidak berharap apapun jika capresnya menang. Munculnya gagasan calon perseorangan bisa jadi merupakan gambaran adanya penurunan kepercayaan kepada parpol, bahkan parpol dianggap gagal mengakomodasi aspirasi masyarakat. Sehingga akhirnya ada gagasan untuk mencalonkan presiden lewat jalur independen Sayangnya pintu pencalonan tanpa partai ternyata tidak dimungkinkan, kecuali ada amandemen baru pada UUD 45. Sekarang rakyat sudah semakin cerdas untuk memilah dan memilih calon partai atau non partai yg berkualitas dan tulus memimpin bangsa. Mana calon boneka mana yang bukan. Kolaborasi antara partai dan relawan yang digagas oleh Irfan Reza aktivis Relagama, menarik juga. Sinergi partai dan relawan yang secara bersama berupaya memenangkan capres yang sama, akan membuat keduanya lebih kuat, sayangnya tidak mudah dilaksanaian. Ada perbedaan orientasi antara partai politik dan relawan. Parpol menginginkan kekuasaan dan uang, sedang relawan menginginkan keadilan & kemakmuran rakyat. Partai jelas struktur organisasinya, relawan banyak kelompok dan organisasinya, ada yang lokal dan nasional. Tidak mudah menjalin kolaborasi, tetapi jika terjadi kolaborasi tetap saja pihak relawan yang banyak kalahnya. Relawan tidak terbiasa dengan bahasa politik, janji politik dan deal-deal politik. Relawan terlalu polos dan mudah retak jika harapannya tidak terpenuhi. Bagaimana jika partai dan relawan bergabung bersama untuk memenangkan capresnya ? Para relawan direkrut menjadi kader partai politik tersebut. Partai nasionalis atau agamis atau nasionalis agamis tinggal saling memilih. Mungkin cara ini lebih jelas posisinya masing-masing. Dengan demikian keinginan partai mencari uang sedikit banyaknya bisa berkurang. Pimpinan relawan resmi jadi kader partai, sehingga partainya berkembang. Perbedaan sifat juang antara partai dan relawan seharusnya bisa menjadi jalan keluar bagi partai yg ingin berkembang besar. Ketamakan keculasan partai yang telah diperlihatkan selama ini bisa dikoreksi dg adanya darah baru dalam partai. Relawan juga perjuangannya tidak cukup sampai memenangkan capres saja, tapi terus mengawal sampai pelaksanaannya. Adanya perbedaan sifat juang, jika tidak Clear , ini bisa mempengaruhi keberhasilan bersama. Partai yg mencari kekuasaan dan uang berbenturan dengan tujuan relawan yg ingin keadilan dan kemakmuran semata. Memang idealnya partai jangan dijadikan mesin uang, pengurusnya harus sukarela seperti relawan. Relawan idealnya jangan dijadikan mesin suara, tapi menjadi mesin partai, sehingga partai solid dan kuat. Saatnya partai merubah sikap tertutup menjadi terbuka, Dewan Perwakilan Partai menjadi Dewan Perwakilan Rakyat yang sesungguhnya. Pemimpin mana yg berani membela rakyat pribumi dan kembali ke UUD 45 yang asli, itulah pemimpin yg akan terpilih. Partai yang mendukung pemimpin diatas tentu akan besar dengan sendirinya. Partai yang membela bangsa lain, korup dan merintangi kembalinya UUD 45 tentu akan terpuruk. Bandung, November 2022 Memet Hakim Pengamat Sosial

Yang Mahal Di Indonesia Itu Adalah Membiayai Oligarki Konglomerat Busuk

0
Salamuddin Daeng, Direktur Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
Oleh : Salamuddin Daeng Jangan dibalik ya, seolah olah oligarki konglomerat busuk yang membiayai kehidupan sosial, ekonomil, politik, pembangunan negara Indonesia. Bukan! Justru rakyat Indonesia lah yang berkeringat membiayai kemewahan hidup oligarki konglomerat busuk. Ingatkan seluruh rakyat jangan terpengaruh oleh propaganda oligarki konglomerat busuk yang mengaku sebagai penyangga utama ekonomi Indonesia. Konglomerat busuk itu parasit kutu busuk. Rakyat Indonesia itu marhaen, rakyat dengan lahan sepetak, jendela rumah jadi kios, masak pagi pagi jual ke tetangga, jualan kaki lima, jualan olnen skala kecil, rakyat Indonesia begitu mandiri, hampir hampir tidak membutuhkan bantuan pemerintahan, mereka hidup guyub saling tolong menolong dalam komunitas komunitasmya. Rakyat Indonesia itu bisa membiayai pemerintah, menggaji para pejabat dari tingkat RT sampai presiden. Kebutuhan uang untuk itu tidak lah besar. Rakyat bisa iuran beras untuk membiayai mereka, iuran iuran itu telah biasa dilakukan tanpa mengeluh, karena biaya pemerintahan itu murah sekali. Namun membiayai kemewahan hidup konglomerat busuk itulah yang paling mahal. Lahan sepetak dipajaki, kios semeter dipajaki, rumah dipajaki, bayar iuran dipajaki, jualan dipajaki, semua untuk menumpuk uang di APBN untuk dipake belanja oleh oligarki konglomerat busuk. Mereka memperbesar kemewahan hidup mereka dengan mendapatkan belanja APBN dalam proyek proyek mereka yang boros, tidak efisien dan korup. APBN itu rakyat yang dipajaki, oligarki konglomerat busuk yang belanjakan, pemerintahan yang diperalat. Kemewahan hidup para konglomerat busuk dengan diperbesar tidak hanya dengan memperalat pemerintahan, namun seluruh institusi moneter dan keuangan. Konglomerat busuk memperalat institusi moneter agar merusak stabilitas moneter, mereka mendapatkan untung dengan menjatuhkan nilai tukar, mereka menjadi insider trading memainkan nilai mata uang, mereka adalah biang kerok hancurnya mata uang negara ini, setelah terlebih dahulu memindahkan aset aset mereka ke luar negeri dan kembali disaat uang mereka bernilai besar terhadap rupiah. Coba lihat itu Bantuan Liquiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Kredit Liquiditas Bank Indonesia (KLBI), mereka membangkitkan negara, memaksa negara meminjam uang, membuat uang, lalu dialirkan semua ke kantong konglomerat busuk. Tau berapa jumlahnya, 6-7 kali APBN Indonesia di masa itu. Bagaimana mereka tidak kaya raya, mereka itu parasit, kutu busuk yang tengik. Apa yang mereka lakukan terhadap ekonomi Indonesia ? Mereka merusak, sumber daya alam dikeruk secara serampangan, sawit, batubara, minyak, tambang tambang yanv luas luas, mereka keruk, meninggalkan kerusakan kerusakan yang sangat parah, mewariskan bencana alam, tragedi kemanusiaan di seantero negeri. Uang mereka dibawa kabur ke luar negeri. Mereka simpan di Panama Papers, pandora papers atas nama pejabat negara dan budak budak piaraan mereka. Para konglomerat busuk dan antek anteknya pada dasarnya anti dengan kebangsaan Indonesia. Jadi sekali lagi yang mahal itu bukan transisi energi, bukan pelaksanaan politik dan pemerintahan, bukan penyelenggaraan hajat hidup orang banyak. tapi yang mahal itu adalah biaya yang harus ditanggung untuk menopang kemewahan hidup para konglomerat busuk yang sepanjang hari merampas sumber daya ekonomi rakyat dan merusak kemampuan produksi serta produktifitas rakyat. Mereka semua itu oligarki konglomerat busuk itu harus ditangkap, jangan dibiarkan menguasai negara,, pemerintahan, bank Indonesia, perbankan, sumber daya alalm. Karena para konglomerat busuk itu hanya akan terus melanjutkan kerusakan yang tidak berkesudahan. Mereka harus ditangkap karena telah melakukan kudeta, makar kepada bangsa dan negara Indonesia.***

Rakyat Berjuang Sendiri? Hasilnya buat Partai?

0
GNPR (Gerakan Nasional Pembela Rakyat) yang dimotori oleh PA 212 dan GNPF sudah beberapa kali turun kejalan. Semula tuntutannya 1. Turunkan harga bbm, 2. Turun harga lainnya. 3. Tegakkan supremasi hukum. Pada aksi jilid 3 tuntutannya hanya 1 yakni turunkan Jokowi. Buruh dan Mahasiswa demikian juga halnya. Memang Jokowi dinilai sebagai sumber ketidak beresan di negeri ini, makanya dituntut mundur atau diganti. Ini merupakan klimaks dari tuntutan lainnya yang tidak pernah digubris penguasa. Aksi GNPR memang mewakili kebanyakan rakyat, walaupun masih banyak yang tidak berani terang-terang bersikap. Yang aneh justru sikap partai yang masih berdiam diri membiarkan rakyat bergerak sendiri. Mereka masih asik dengan mainannya sendiri, menghitung peluang2 yang mungkin ada akibat tuntutan demo, bukannya ikut berjuang. Alangkah tidak terpuji sikap seperti diatas. Hanya mengambil untung dari penderitaaan rakyat, menggunakan pola pikir dagang . Jika tuntutan tidak berhasil, ulama dan aktivis ditangkap partai akan bersih, biarlah mereka yg menjadi korban. Jika tuntutan berhasil partailah yang maju dan merasa paling berjasa. Jadi apa gunanya ada partai jika perilaku partai sama dengan pengusaha ? Prinsip usaha mencari untung sebesar mungkin dengan modal dan resiko sekecil mungkin. Prinsip partai mencari peluang kekuasaan dan sumber dana sebesar mungkin dengan pengorbanan dan resiko sekecil mungkin. Partai telah bergeser dari *Alat Perjuangan* menjadi Pedagang Sapi Mereka mampu membuat baliho, menyebar bendera dimana mana, menyebar bantuan kemana mana sampai kampanye terselubung pake atribut Islam dilakukan, tiba tiba tampak soleh atau soleha bersarung, berkopiah, berkerudung, tapi tidak ada 1 partaipun yg berani mendukung suara kebanyakan rakyat ini. Jika saja pengurus partai ini cerdik dengan ikut mendukung gerakan ini, bisa dipastikan akan mendulang simpati dan suara rakyat. Disinilah seharus partai pro rakyat berada, berjuang bersama rakyat. Begitu juga TNI sebagai anaknya Rakyat berjalan dan berjuang bersama rakyat. Mungkin juga ada pemikiran jika Partai turun ke jalan, berjuang seperti rakyat beresiko ditangkap aparat dan menghabiskan dana. Untuk pilpres toh harus lewat partai bukan lewat perwakilan rakyat dan tidak perlu ke jalan. Kemudian soal suara juga yang menentukan bukan suara rakyat, tapi KPU. Jadi lebih penting cari ahli IT yang bisa kutak katik suara atau lebih baik “membeli KPU” atau presiden. Kan presidenlah yang bisa menentukan menang atau kalahnya capres. Memang Presiden dengan sistem yang ada bisa menerintahkan KPU memenangkan calon penggantinya. KPU dipilih dan diangkat oleh penguasa, artinya mereka dikendalikan oleh penguasa. Presiden lewat para Plt Gubernur, Bupati, Walikota yg telah disiapkan Mendagri bisa juga menggerakkan Bupati, Walikota, Gubernur untuk memenangkan pilpres ini. Ini juga cara penguasa untuk memenangkan pilpres dan pilkada. Salahnya semua bukan untuk kepentingan rakyat, tapi untuk oligarki. Kalau dipikir lebih dalam, ini merupakan penjajahan gaya baru. Indonesia suka atau tidak suka harus siap-siap menerima kenyataan ini. Makanya tidak heran partai yang ada hanya ribut soal capres dan cawapres & bikin koalisi serta setoran saja. Di daerah juga nuansanya demikian, spanduk dan baliho sudah bertebaran cari muka supaya rakyat tertarik, seolah rakyat itu bodoh sekali. Ada juga pemikiran toh partai perlu rakyat cuma tiap 5 tahun sekali, itupun hanya beberapa detik saat penusukan suara. Rasanya partai berjalan terlalu jauh dan sudah salah kaprah. Dulu jaman kemerdekaan rakyat yg dipimpin oleh para Ulama yg berjuang, bersimbah darah dan harta. Sekarang kok tiba2 partai yg berkuasa. Sekarang rakyat yang dipimpin oleh Ulama bergerak turun ke jalan tanpa dukungan partai, tapi jika berhasil dengan tuntutannya partailah yg rebutan kekuasaan. Akankah pola ini terjadi lagi ? Dulu TNI belum ada, yg perang itu santri dan ulama, itulah cikal bakal TNI. Sekarang TNI dengan senjata modern, seragam yang mentereng dan gaji tetap malah terkesan menjauhi ulama hanya demi pangkat dan jabatan yang sifatnya hanya sementara. Rasanya ketrampilan yang dimiliki oleh anggota TNI tidak bermanfaat untuk rakyat Teringat tahun 1965, bagaimana pasukan baret hijau dari Kodam Siliwangi mengawal kami, mahasiswa dan siswa yang demo Tritura al bubarkan PKI, TNI masih bersama rakyat bukan dalam arti slogan. Kemudian tahun 2019, rombongan santri dari Ciamis bergerak jalan kaki ke ibu kota, karena semua kendaraaan dilarang mengangkut mereka ke Jakarta. Tidak terlihat ada anggota TNI yang mengawal dibelakang santri tersebut. Mungkin tidak kuat jalan jauh atau takut pada presiden. Dulu Polisi adalah alatnya Belanda, walaupun banyak polisi yang ikut bela rakyat, sekarang menjadi alat penguasa untuk membekam umat Islam supaya diam dan membela pengusaha Cina. Polisi pembela rakyat hanya bisa berdiam diri, tidak punya keberanian, kalah oleh kekejaman Satgasusnya TK dan FS. Rakyat yang telah dibelah oleh kekuasaan, saat ini kembali bersuara dan ingin merdeka lagi tanpa bantuan partai atau TNI. Sejarah yang akan berbicara kelak, apakah partai dan TNI akan berjalan masing masing atau bersama rakyat. Bandung, November 2022 Dr Memet Hakim Pengamat Sosial Ketua Umum APIB

In Memoriam: Tjetje Hidayat Padmadinata

0
Tjetje Hidayat Padmadinata/IST
Dr. HC Rd. Tjetje Hidayat Padmadinata (89 tahun), tokoh senior Jawa Barat — telah tiada. Jelang sore Rabu ini, dalam perawatan intensif di RS Hasan Sadikin Bandung. Meninggal dunia pk 16.45 wib. Almarhum adalah aktivis dan politisi tiga zaman. Sejak masa orla, orba hingga orde reformasi. Sebagai politisi, Kang Tjetje — sapaan akrabnya pernah menjadi anggota MPR/DPR RI selama empat periode. Di antaranya tiga kali terakhir secara berturut. Masa bakti 1971-1977, 1987-1992, dan1992-1997 — Komisi I Bidang Luar Negeri. Pascareformasi 1998, Tjetje kembali ke Senayan. Anggota MPR/DPR RI 1999-2004, Komisi II Bidang Dalam Negeri.
Almarhum sebagai budayawan, politisi, wartawan, dan aktivis pergerakan. Daripadanya diperoleh sejumlah penghargaan. Beliau dikenal dengan sikap kritis. Gaya bicaranya meledak-ledak, tanpa “tedeng aling-aling”. Tjetje Padmadinata adalah tokoh sentral ormas Angkatan Muda Siliwangi. Bersama antara lain almarhum Tatto S. Pradjamanggala dan Djadja Soebagdja. Menjadi Ketua AMS pada 1974. Lahir di Bandung, 22 Juni 1933 — Tjetje muda mengenyam pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris di PTPG (kini Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), Bandung. Selanjutnya pada jurusan Hukum Internasional, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Universitas Padjadjaran. *** Berlatar pendidikan sastra, almarhum dikenal sebagai penulis karya sastra. Berlanjut kolomnis politik di surat kabar “Pikiran Rakyat” Bandung. Sejumlah karyanya beredar luas. Antara lain “Setengah Abad Perlawanan 1955-2005” (2006), “Identitas Bandung” (2010), “Siliwangi & Demokrasi” (2010), “Siliwangi Militer di Mata Siliwangi Sipil” (2011), “Menembus Sekat-sekat Budaya” (2011), dan “Setengah Abad Perlawanan 1955-2005” (2006). Dalam orasi ilmiah, saat menerima gelar Honoris Causa Bidang Politik Universitas Pasundan Bandung — Tjetje menyampaikan berbagai fakta tentang kehidupan di republik. Menurutnya, selain banyak komprador — banyak pula peselancar politik yang telah membajak reformasi dengan melanggengkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Tjetje menyatakan, dalam perikehidupan bernegara-bangsa _(nation states)_ Republik Indonesia 17 Agustus 1945 — dasar negara (Pancasila) dan bangun dasar negara tak diubah-ubah lagi. Dalam manajemen (tata kelola) pemerintahan nasional-lokal, sistem otonomi daerah (bukan negara federal) sudah tepat, tinggal perbaikan dalam pelaksanaannya. Kualitas kenegarawanan Angkatan 1928, sejauh ini tak tertandingi, yakni jujur, bersih, cerdas, mengabdi, dan berkorban demi Indonesia (Nusantara). Demi persatuan nasional Indonesia yang benar dan adil, sistem panggung tunggal Jakarta harus diubah menjadi sistem ibu kota-ibu kota provinsi. Ia dianggap tokoh pendobrak yang mendahului zamannya. Konsekuensi dari sikapnya itu, sejak 1960 Kang Tjetje mesti merasakan pahit getirnya menjadi tahanan politi. Ia dituduh sebagai mahasiswa pendukung Gerakan Perdamaian Nasional (GPN). Saat itu ia konseptor Brigade Mahasiswa Perdamaian Nasional. ”Ketika saya ditahan di Cipinang, keanggotaan MPR/DPR saya tidak dicabut,” ujarnya. Tjetje aktif menulis sejak 1960 sebagai sastrawan, kolumnis, dan jurnalis. Tulisannya terkait dengan komitmennya terhadap masalah kenegaraan dan politik, baik lokal, nasional, regional, maupun internasional. Selain sekolah formal, dia juga seorang otodidak sejati dan sejak muda rajin ”memungut” ilmu dari banyak tokoh besar pada masa pergerakan, seperti Raden Adipati Arya Wiranatakusumah, Ema Bratakusumah, Sukanda Bratamanggala, Mayjen Suwarto, dan Zulkifli Lubis. Selain menulis, ia juga sering menjadi narasumber dalam seminar, simposium, dan kuliah umum. Selalu aktif mengikuti diskusi ilmiah yang membahas persoalan sosial, kebudayaan, terutama politik secara akademis. Di samping ratusan judul artikel yang khusus diperuntukkan bagi peristiwa tertentu, ia juga menulis sejumlah buku. Kalangan elite Indonesia mengenal Tjetje sebagai pengkaji ilmu politik, politisi multitalenta, sekaligus politikus yang teguh dalam memelihara integritas atas dasar moralitas dan budaya adiluhung. ”Atas dasar semua itu, Kang Tjetje layak mendapatkan gelar doktor honoris causa,” ujar Profesor Rusadi Kantaprawira, ketua tim promotor. Sampai memasuki usia senja, politisi itu tetap aktif walau tak memiliki jabatan apa pun. Selamat jalan, Kang Tjetje.*** – imam Wahyudi wartawan senior di bandung

ANIES BASWEDAN DIGANDENGKAN DENGAN SIAPA PUN JADI…

0
Anies Baswedan Gubernur Jakarta Terpilih saat Fitting bergaya jurus Bangau, yang konon Bangau bisa bikin takut kodok/ist
BANYAK sekali yang mensurvei tokoh satu ini. Tanpa basa-basi dan unggulnya tak karuan selalu unggul alias memang dia dinanti untuk pemimpin akan datang, saya juga tak ingin menyebut mana lembaga survei yang inginnya bukan dia, tapi hasilnya kenapa dia lagi-dia lagi. Namanya muncul dalam tiap survei dan nongkrong paling keren. Jika ada survei yang menempatkan di urutan lain itu silakan saja dan mungkin ingin gerek nama lain yang dipesan biar masuk survei yang “dipaksa” ingin berlaga di Pilpres 2024. Bicara 2024 ini memang seksi, tapi para pemimpin daerah atau para pejaba ini seperti gelisah ingin berlaga. Bekal sebenarnya tak banyak, mungkin saja sudah ada janji dari pihak-pihak oligharki. Ups..ini mungkin saja saya katakan. Tapi sebenarnya ada yang menarik dari kesibukan ketua partai atau para pejabat yang sibuk dengan kampanye alasan sosialisasi dengan mengunakan “dana jabatan” kesana-kemari kampanyekan diri. Tapi biar tak dilihat pake uang negara dilakukan di hari kerja, tapi pake fasilitas negara dan bahkan ajudannya paling galak siaap mengawal bahkan — sepertinya lebih galak dari gonggongan anjing galak– siap siaga mengawal mereka ke pelosok-pelosok. Nikmat benar para pejabat saat ini. Bisa apa saja. Ditengah hiruk pikuk minta tiga periode ini bergulir panjang. Bahkan kembali soal survei, ada lembaga survei yang khusus mensurvei bahwa ini kehendak rakyat. Rakyat yang mana, ada juga yang bukan dengan survei katanya pake big data? Hmm lucunya negeri ini ada saja yang unik, meski harus melanggar konstitusi seakan sepakat mau berbuat jahat untu melanggengkan kekuasaan. Semoga sadarlah dan juga jangan bicara dibalik amandemen 1945, baiknya kita balik saja ke UUD 1945 yang asli, ini lebih kuat nilai martabat bangsanya dan nilai luhurnya agung jika kita dengan dengan UUD 1945 yang asli. Kembali ke soal nama tokoh yang satu ini. Jika di lihat cara kerjanya sangat apik rapih dan terus saja berkelanjutan. Konsepnya belakangan kolaborasi. Bahkan integrasi, namun sebenarnya ia sendiri piawai dalam bernarasi yang bukan sekadarnya. Karena dengan begitu ia mampu menghalau serangannya yang begitu dahsyat dari para pembecinya. Ia hadapinya dengan senyum tapi dengan gaya yang khas lakukan caranya jawabnya dengan kerja karena baginya ia punya pola pikir masa depan lebhi baik ditata dari sekarang agar  gemilang. Ia kini sudah bekerja dan menjalankan janjinya masa kampanye dulu. Tidak dibilang janji manis yang banyak meleset. Ia benar-benar tunaikan janji saat kampanye dan agar membuat warganya senang dan berhidup dan kehidupan nyaman di wilayahnya. Namun karena judulnya tulisan bagian satu ini harus disudahi dulu maka sedikit pemantik info tulisan selanjutnya bahwa orang ini adalah orang yang layak jadi tokoh bangsa. dan akan menjadi yang terbaik diantara yang ada. Meski tidak mengesampingkan akan ada tokoh pendampingnya untuk ikut menjadi bangsa ini terangkat nilai luhurnya di mata dunia dan bangsa ini akan lebih menajdi bangsa besar yang sebenarnya dan berdaulat akan segala hal. Kesimpulannya bahwa tulisan ini adalah jika hari ini ada pemilu Pilpres (maaf ini gaya survei) maka nama tokoh ini yang tak lain adalah ANIES BASWEDAN DISANDINGKAN DENGAN SANDAL JEPIT PUN BAKAL JADI PRESIDEN 2024. Alasannya ada banyak alasan yang rasio dan lebih akurat, baik soal kondisi dan juga yang utama jujur dalam pelaksanaan Pemilu 2024. Jika saat ini  baru NASDEM yang agenda sudah paling siapa jelas Nasdem yang paling pionir mendukung Anies.  Maka sejumlah survei makin bikin kaget karena hasilnya Anies paling unggul. Ayolah kini saatnya kita harus lebih bangun kekuatan nilai luhur dan martabat bangsa. Jadi jangan banyak rekayasa kontitusi survei karena kenyataan Anies paling unggul. Kembali ke tokoh kita sesuai janji bahwa BAKAL JADI PRESIDEN 2024 jelas nampak kasat mata. Soal ini saya langusng sebut saja sosok Anies Baswedan  sempat dikomentari Yusuf Blegur tokoh aktivis 98, yang mengomentari tulisan saya sebagai Aendra Medita Kartadipura seorang jurnalis nasional, menulis “Disandingkan Dengan Sandal Jepit pun, Tokoh Ini Akan Jadi Presiden 2024”. Sebuah pernyataan yang cukup menggelitik. Pastinya ada rasionalisasinya meski politik itu tidak selalu matematis. Entah jumawa atau memang masuk akal. Lepas akurat atau tidaknya, publik perlu tahu deskripsi dari jurnalis senior itu. “Dari sekian banyak bakal capres 2024 yang bertebaran, publik memang tidak ada banyak pilihan. Maksudnya selain popularitas, rakyat hanya disuguhkan figur-figur yang diproduksi oleh sebuah sistem politik yang menumpang pada demokrasi kapitalistik yang transaksional. Mekanisme pemilu yang digerakkan oleh konsep liberalisasi dan sekulerisasi, tak ubahnya menjadi industri demokrasi. Proses menuju kekuasaan dan melahirkan kepemimpinan yang layaknya jual beli suara rakyat. Kriteria seorang capres tak mesti lagi diukur dari kapasitas, akuntabilitas dan integritas nya. Lebih penting dan menarik bagaimana figurnya terkenal, banyak harta dan sering tebar pesona. Betapapun sesungguhnya capres itu dipenuhi skandal korupsi atau anasir-anasir kejahatan negara sekalipun,”tulis Yusuf. Tak hanya Yusuf banyak yang japri ke saya bahwa apa saja alasannya menulis soal Anies dan Sendal Jepit? Baiklah ini alasanya: Meski Tokoh ini (Anies) saat ini msih kerja sebagai kepala dearah DKI Jakarta (Gudbener) maka ia sedang jadi sorotan. Gudbener rasa presiden padahal belum jadi Presiden. Dengan begitu maka jejak langkah jelas. Ada cela? Tak ada bagi saya. Bagi yang benci Gudbener ini banyak celanya. Tapi abaikan saja toh ia memang kerja keras, bukan keras-keraskan kerja tanpa tanda yang hakiki. Bahkan KPK sibuk mencari celah soal Formula E. Anies Baswedan adalah tokoh tak terbendung saat ini. Kuat dan piawai, jadi jika untuk menuju red carpet ke Istana ia hanya akan terjegal oleh: Ia dihalau oleh partai-partai untuk ikut Pilpres. Alasan ini sederhana tapi ini mudah ditepis karena saat ini ada sejumlah partai yang mulai intip-intip. Jika lolos ikut kandidat di Pilpres yang mengagalkan adalah kecurangan. Tapi kecurangan akan segera dikalahkan, karena banyak celah yang sudah tergambar jika memang akan curang. Mungkin saja ada tapi lihat nanti kecurangan itu hanya sesaat tapi kejujuran akan abadi. “Hati-hati dengan penyelanggaraan Pemilu”. Soal pasangan politik dagang sapi. Ini soal politik dagang sapi umumnya main dalam pemilu. Dan semoga ini bisa tergerus karena pemilih kita sudah cerdas. Cerdas asli bukan lagi yang mau di adu domba. Sebenarnya 3 dulu saja yang ingin disampaikan ini sebagai sarat yang akan mengganjal tokoh ini. Tapi jika diungkap kemudian ada lembaran panjang. Jadi ini jelas subtansi pokok dari akan tak mudah dibendung tokoh ini (Anies) karena. Ia jelas punya reputasi yang unggul. Ia mumpuni, ia yang dirindu kini. Dan bukan sekadar wacana ia lebih nyata dari mimpi pemimpin masa depan yang berkelas. Dan reputasi ini pastinya akan terjaga dengan cara dia. Cara baik dalam politik komunikasi ia sebagai sosok pemimpin saat ini tanpa harus lagi cari-cari dan dicari-cari pilihan itu dia, absolut adalah yang diidamkan rakyat saat ini. Untuk itu maka harus lebih yakin para pendukungnya yang saat ini makin banyak saja relawan di sejumlah tanah nusantara ini bermunculan mendukung tokoh ini (Anies Baswedan) sehingga untuk menjadi semua itu saya Anies punya  brands reputition yang jadi dan bakal memimpin bangsa yang makmur ini menujun  nilai luhur dan martabatnya.*** AENDRA MEDITA KARTADIPURA, PEMIMPIN REDAKSI JAKARTASATU.COM dan anggota analys Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI)

GILA HGB 160 TAHUN, MEMANG NEGARA MILIK JOKOWI ?

0
M RIZAL FADILLAH/ist
by M Rizal Fadillah Dalam rangka menarik investor maka Pemerintah Jokowi main obral tanah dan pajak. Nekad dan jor-joran selah-olah negara ini milik sendiri, semau-maunya. Meski IKN sudah ditetapkan dalam Undang-Undang tetapi rakyat Indonesia banyak yang tidak setuju akan agenda pindah Ibu Kota. Undang-Undang pun dibuat secara licik dan tidak terbuka. Adalah gila jika Jokowi melalui Menteri ATR Hadi Tjahjanto menawarkan HGB untuk jangka waktu 80 tahun dan dapat diperpanjang 80 tahun sehingga total yang diizinkan 160 tahun. Aturan seenak udel dewek ini bertentangan dengan UU Pokok Agraria yang memberi hak HGB hanya untuk 30 tahun dengan perpanjangan 20 tahun. Presiden telah melakukan “a bus de droit” melanggar Undang Undang. Kepanikan luar biasa Pemerintah. Ngotot pindah IKN tapi modal dengkul akhirnya mengemis sana sini mencari belas kasihan investor. Memalukan dan membahayakan. Memalukan karena menjadi tertawaan rakyat dan dunia, nafsu besar tenaga kurang. Membahayakan karena tanah tumpah darah diobral murah. Rakyat semakin susah sementara kapitalis sumringah. Tawaran obralan menggiurkan bebas pajak 30 tahun diskon sampai 350 % mau pilih tanah yang mana saja. Belum memiliki aturan yang mendasarinya sudah cuap-cuap kemana-mana. Ini ngurus negara atau jualan kaki lima. Jokowi ini Presiden atau Pasien. Pasien batuk-batuk bersuara berisik. Market Sounding IKN di Ballroom Jakarta Theater menjadi panggung teatrikal dagelan. Mana investor Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab ? Apa guna membawa Tony Blair jika investor Eropa geleng-geleng kepala. Softbank Group Corp sudah hengkang lebih dulu. Para investor tahu bahwa proyek IKN tidak rasional dan miskin dukungan rakyat. Presiden Jokowi banyak dihujat karena programnya omong doang dan mau-maunya sendiri. Tidak smart. Jokowi panik ketika masa jabatannya terus bergerak memendek. Proyek IKN diprediksi mangkrak bahkan berpeluang gagal, karena biaya akan terus membengkak di saat pertumbuhan ekonomi stagnan. Diprediksi awal anggaran 490 Trilyun akan terus membengkak menjadi 1.470 Trilyun. Menyedot dana APBN akibat swasta yang “wait and see”. Ketika prioritas awal pembangunan adalah gedung-gedung pemerintahan maka swasta tidak begitu tertarik. Jokowi mimpi punya istana baru. Demikian juga dengan dukungan rakyat yang minim karena dinilai bukan proyek penting bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. IKN Nusantara lebih pada urgensi Presiden dan oligarkinya. Proyek apapun tanpa dukungan rakyat dipastikan ambyar. Kereta Cepat dan pembangunan Bandara Kertajati adalah contoh. Belum lagi persoalan memindahkan ASN dan kondisi geografis IKN yang berada di area tambang rawan bencana. HGB 160 tahun itu melanggar hukum, menginjak-injak hak rakyat kecil serta merendahkan harga diri bangsa. HGB 160 tahun adalah wujud dari kepanikan dan frustrasi. Awal dari kegagalan proyek yang tidak jelas. Darimana angka 160 tahun itu muncul ? Jangan jangan nasehat dukun. IKN ditengarai berada di ruang mistik dan klenik. Kendi air dan kumpulan tanah Kepala Daerah. IKN tidak membawa berkah hanya membuat negara tambah parah. Proyek rudapaksa dari penguasa yang merengek ingin segera punya istana. *) Pemerhati Politik dan Kebangsaan Bandung, 24 Oktober 2022

“APIB Award”, 25 Oktober 2022 di Bandung

0
Aliansi Profesional Indonesia Bangkit (APIB) yang terdiri dari para Akademisi, Praktisi, Ulama dan Militer, kembali akan memberikan penghargaan, saat ini diberikan kepada 5 tokoh bangsa yakni Letjen.purn Solihin GP, Atalia Praratya , Dr. Anies Baswedan, Drs. A. Syaikhu dan Mayor purn Agus HY dan 3 orang anggota nya yang telah berjasa turut membesarkan APIB yakni Brigjen (purn) Drs. Bambang Supriyanto alm, Brigjen purn Erwin Barley alm dan Drs Djaelani Hendrakusuma CAP, CA, Ak alm. Selain itu APIB akan melantik pengurus 1. Yayasan APIB yang akan bergerak di bidang Pendidikan, Kesehatan dan Sosial, berpusat di Bandung, dengan Ketua : Prof.dr. Herman Susanto SpOG-K Onk 2. Garda Nadional APIB yg berpusat di Serang, Banten, dengan Ketua : Drs A.Rauf Ismail 3. Badan Bantuan Hukum yang berpusat di Jakarta. Ketua : Drs Suramto SH, MM “Rencana pelaksanaan pada Selasa,  25 Oktober 2022 di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung,  Diundang pada acara ini seluruh pengurus dan anggota APIB dari berbagai daerah dan undangan khusus. Bandung, 23 Oktober 2022 Dr.Ir. Memet Hakim, MM, Ketum APIB Hervan Rivano SP, Ketum Panitia